Kamis, 13 September 2012

Kajian surat Al-kahfi ayat 109-110


BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Al-Qur’an adalah sekumpulan teks yang dijadikan sebagai sentral sejarah dan peradaban Islam, dan sekaligus sebagai dasar ilmu pengetahuan. Peradaban Islam pada dasarnya adalah kegiatan manusiawi yang banyak didialogkan dengan realitas, dan dari segi lain, peradaban itu didialogkan dengan teks (al-Qur’an).  Karena itu, teks al-Qur’an dapat dijadikan sebagai sentral peradaban, sentral ilmu dan pegangan keagamaan. Interpretasi (tafsir) adalah salah satu mekanisme kebudayaan yang penting dalam memproduksi ilmu pengetahuan

Perintah Merenungkan al-Qur’an “Orang-orang yang telah kami beri al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepada-Nya” (QS.al-Baqarah:121) atau “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Q.S. Muhammad:24) Nabi bersabda, “Al-Qur’an adalah hidangan Allah di bumi-Nya, maka nikmatilah hidangan itu semampunya.” (H.R. Bukhari dan Muslim), berdasarakan perintah tersebut wajiblah bagi kita umat muslim, untuk merenungkan, mempelajari serta mengamalkan Al-Qur’an, yaitu dengan mempelajari ilmu Tafsir

Ilmu tafsir adalah Ilmu yang dengannya diketahui maksud kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw. Dan dengannya pula kita dapat mengetahui Makna-makna al-Qur’an serta  kita dapat mengetahui Hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam Al-Quran
 
B.  Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk Mengetahui makna kata-kata dalam Al-Qur’an, Menjelaskan maksud setiap ayat, Menyingkap hukum dan hikmah yang dikandung al-Qur’an, Menyampaikan pembaca kepada maksud yang diinginkan oleh Syari` (pembuat syari`at), yaitu Allah SWT, agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat.
C.    Analisis Masalah
1.      Apa bunyi ayat Al-Kahfi ayat 109-110 ?
2.      Bagaimana Terjemahan dari Surat Al-Kahfi ayat 109-110 ?
3.      Bagaimana Tafsir dari Surat Al-Kahfi Ayat 109-110 ?
4.      Bagaimana Kaitan antara ayat tersebut dengan bidang pendidikan ?
5.      Apa hikmah yang dapat di ambil dari ayat tersebut ?


















BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
A. Ayat Yang Dikaji

B.  Terjemahan

Al-Kahfi ayat 109
Katakanlah: `Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)`”.(QS. 18:109)
Al-Kahfi ayat 110
Katakanlah: `Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:` Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa `. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya`”.(QS. 18:110)
C. Tafsir

Al-Kahfi ayat 109
Allah Ta’ala berfirman, katakanlah, hai Muhammad, kalau sekiranya air lautan menjadi tinta bagi penauntuk menulis kalimat-kalimat, hikmah, ayat-ayatNya yang menunjukan kepadaNya, sungguh habislah lautan tersebut sebelum habis dotulis kalimat-kalimat itu, “walaupun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula”, yakni lautan lain, kemudian lautan yang lainnya dan seterusnya, niscaya kalimat-kalimat Allah tidak akan selesai-selesai ditulis. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (27)
Artinya:
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya dituliskan kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Luqman: 27). Sesungguhnya tuhan kami adalah sebagaimana yang dia firmankan dan diluar apa yang kami gambarkan.
Ayat di atas menyatakan demikian itu tiada batas nikmat Tuhan dapat kita menghitungnya. Semakin kita mempelajari ilmu pengetahuan, maka semakin luas pengetahuan kita. Namun semakin pula kita tahu begitu banyak yang tidak kita ketahui. 

Dari ayat di atas kita perlu bercermin, ilmu pengetahuan yang kita miliki sekarang hanyalah sedikit sekali dari yang telah digariskan Allah SWT. Nikmat yang dilimpahkannya tidak dapat kita ukur dengan pengetahuan kita. Sekali-kali kita patut menginstrospeksi siapa dan bagaimana kita. Cukupkah yang kita miliki menjadi tujuan hidup kita? Kemana kita akan kembali setelah kehidupan ini berakhir? 

Mari kita mengambil pelajaran dari Firman Allah, "Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." "Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembelapun terhadap Kami," "kecuali karena rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu adalah besar." (QS. Al-Israa' : 85-87).

Dari ayat di atas Allah menyampaikan pesan-Nya, pengetahuan yang dititipkan kepada manusia itu sedikit. Dengannya manusia menjadi sombong. Padahal jika Allah berkehendak, Dia dapat melenyapkannya, sirna tidak berbekas, lantas apa yang akan kita sombongkan lagi? Tidak akan ada pembelaan (perlindungan) kecuali atas izin-Nya. Dikunci dengan penjelasan, bahwa karunia yang dikucurkan-Nya besar. Seperti dijelaskan pada surat Al Kahfi 109 di atas. Demikian besar nikmat Tuhan. 

Pengetahuan apapun yang kita miliki, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, kesenian, maupun ilmu agama. Kalau kita mengatakan, "Saya beriman dan mengerjakan rukun Islam" Cukupkan demikian itu menjadi pembelaan di akhirat kelak? Padahal dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, yang demikian itu tiadalah cukup jika dibandingkan dengan Nikmat-Ku. 

Perlu kita ketahui Islam tidak hanya sekedar shalat, puasa, zakat, dan melaksanakan haji. Islam sangatlah luas dan mendalam. Islam adalah agama yang mulia disisi-Nya. Ada tiga pilar Islam yaitu, Iman, Islam dan Ihsan. 

Hal ini dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW "Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, "Ya Muhammad, beritahu aku tentang islam" Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu." Kemudian dia bertanya lagi, "Kini beritahu aku tentang iman." Rasulullah Saw menjawab, "Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya." Orang itu lantas berkata, "Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan." Rasulullah berkata, "Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang Assa'ah (azab kiamat)." Rasulullah menjawab, "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya." Kemudian dia bertanya lagi, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya." Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat." Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, "Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?" Lalu aku (Umar) menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah Saw lantas berkata, "Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian." (HR. Muslim)

Kerendahan hati, salah satu pintu masuknya ilmu kepada manusia. Oleh sebab itu, siapapun yang mengabarkan kebaikan dan memperingatkan larangan-larangan Allah, hendaklah kita mendengarkannya. Dengan menyombongkan diri atas kemampuan yang sedikit sekali itu hanya membuat Allah murka kepada kita.






Al-Kahfi ayat 110
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110)
Katakanlah kepada mereka: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, mengakui bahwa semua ilmuku tidak sebanding dengan apa yang ada pada Allah, aku mengetahui sekadar apa yang diwahyukan Allah kepadaku, dan tidak tahu yang lainnya kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Dan Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa: "Yang disembah olehku dan oleh kamu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi Nya. Oleh karena itu barangsiapa yang mengharapkan pahala dan Allah pada hari perjumpaan dengan Nya, maka hendaklah ia tulus ikhlas dalam ibadahnya, meng Esakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah Nya dan tidak mengadakan syirik baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi seperti ria, karena berbuat sesuatu ingin dipuji orang itu termasuk syirik yang tersembunyi. Dan setelah membersihkan iman dari kemusyrikan itu hendaklah mengerjakan amal saleh yang dikerjakannya semata-mata untuk mencapai keridaan Nya.
 (Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia) anak Adam (seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, 'Bahwa sesungguhnya Rabb kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.') huruf Anna di sini Maktufah atau dicegah untuk beramal oleh sebab adanya Ma, sedangkan huruf Ma masih tetap status Mashdarnya. Maksudnya; yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun").
Thabrani  meriwayatkandari Amr bin Qais al-kuhfi bahwa sesungguhnya dia mendengar Muawiyyah bin Sufyan berkata, “Inilah ayat terakhir surat Al-kahfi.”
Allah Ta’ala berfirman kepada muhammad saw., “katakanlah”, kepada kaum musyrik yang mendustakan kerasulanmu, “sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu.” Barang siapa yang menyangka aku pendusta, maka tampilkanlah perkara yang seperti aku bawa. Sesungguhnya aku tidak mengerti perkara ghaib yang aku ceritakan kepadamu berkenaan dengan masa lalu, yaitu kisah Ash-habul Kahfi dan cerita Zulkarnain seperti yang kamu tanyakan, seandainya Allah tidak memberitahukan kepada ku. Jadi, aku hanya dapat menggambarkan kepadamu”bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang maha Esa”, tiada sekutu bagiNya. “barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan tuhannya” yakni dengan pahala dan balasan yang baik,”maka hendaklah dia mengerjkan amal shaleh”, yaitu amal yang ssesuai dengan syariat Allah,”dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada tuhannya”, yaitu amal yang di tujukan bagi zat Allah yang maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya. Inilah dua sendi dari amal yng makbul. Yaitu, amal tersebut harus ikhlas karena Allah dan sesuai dengan syariat Rasulullah saw.,

D. Kaitan Dengan Bidang Pendidikan

Sesuai dengan firman Allah swt : "Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." (QS Al Kahfi : 109)

Adapun ilmu yang diberikan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitis air di tengah samudera yang luas. Walau bagaimanapun, barangsiapa yang dikurniakan ilmu oleh Allah yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya balasannya adalah sebagaimana yang disebut oleh Allah swt :"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat." (QS Al Mujaadilah : 11)

 Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun Walaupun hanya "setetes" ilmu Allah yang diberikan kepada manusia, namun ia datang dalam berbagai variasi. Oleh karena itu kita sebagai manusia hendaknya mensyukuri nikmat Allah dengan terus berusaha mencari ilmu, karena sampai kapanpun menuntut ilmu itu wajib hukumnya, Sesuai dengn sebuah kata mutiara “Uthlubul ilmi minal mahdi ilal lahdi” tuntutlah ilmu dari buaian hingga alam kubur. Karena pada hakikatnya kehidupan kita tidak dapat terpisahkan dari suatu pembelajaran, apa yang kita alami adalah pelajaran bagi kita.

Ilmu itu memiliki kebaikan jika setelah kita kaji secara mendalam, ia membuatkan kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkat yang mesti kita cari sepanjang kita menuntut ilmu, ditambah pula dengan kejelasan niat serta betul pula cara pengambilannya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya. Perkara lain yang tidak kurang pentingnya semasa kita membuat kajian terhadap ilmu adalah bagaimana cara mendapatkannya agar kita dapat memperolehi ilmu yang sinar cahayanya dapat meluas di dalam dada serta dapat membuka penutup hati.

E.  Hikmah Yang Dapat Diambil
  • Senantiasa beramal sholih dan tidak berbuat syirik kepada Allah
  • Menuntut Ilmu Sampai kapanpun
  • Syarat diterimanya amal sholih (ibadah) adalah ikhlas dan sesuai sunnah
  • Nikmat terbesar bagi mukminin adalah berjumpa dengan robnya dan melihat wajahnya di surga
  • Larangan berbuat bid'ah dalam ibadah
  • Manusia diciptakan untuk diuji yang terbaik amalnya (paling iklash dan sesuai sunnah)
  • Ikhlas sangat dipengaruhi oleh keimanan seorang hamba
  • Keimanan sangat dipengaruhi oleh ilmu seorang hamba tentang agamanya
  • Wajibnya menuntut ilmu agama untuk bisa ikhlash dalam beribadah
  • Tidak boleh sombong atas ilmu yang telah kita ketahui
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari Surat tersebut dapat disimpulkan bahwasanya, Ilmu yang Allah miliki adalah lebih dari luasnya samudra dan dunia, dan ilmu yang Allah berikan kepada kita tidaklah lebih dari setetes air, oleh karenanya tidaklah kita diperkenankan untuk tinggi hati, karena sesungguhnya rendah hati adalah salah satu kunci masuknya ilmu dalam diri kita,
Allah juga memerintahkan untuk senantiasa beribadah kepadanya karena sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang beriman adalah dapat bertemu dengan rabb-Nya. Serta tidak diperbolehkan menyekutukan Allah dengan segala seseuatu apapun.
B.     Saran

Dengan membaca isi makalah tersebut, sebagai generasi muslim diharapkan untuk dapat mengamalkan apa yang terakndung dalam Al-Quran, sehingga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beriman lagi berilmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar